Mengenal Lebih Jauh Tentang Agile Development dalam Dunia IT

Mungkin Anda sudah pernah mendengar istilah Agile Development Software. Metode agile development software tersebut memberikan banyak manfaat bagi perusahaan dalam menangani sebuah proyek IT, mulai dari segi biaya hingga membuat reputasi perusahaan semakin meningkat. Bagi Anda yang masih belum seberapa mengetahui tentang apa itu Agile Development, berikut ulasannya yang perlu Anda simak. Khususnya bagi Anda yang ingin mengembangkan IT perusahaan menjadi lebih baik dan optimal.  

Apa itu Agile Development dalam IT

Untuk mengetahui lebih jauh apa itu Agile Development kita hendaknya perlu memilah terlebih dahulu apa arti agile itu sendiri. Kata tersebut mengacu pada dorongan untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan terhadap sebuah proyek. Dalam dunia IT Agile Development tersebut bisa diartikan sebagai pengembangan software dengan cara cepat, mudah beradaptasi dengan perkembangan dan memberikan kepuasan lebih kepada para pelanggan dalam sebuah proyek IT. Konsep mengenai Agile Development pertama kali dicetuskan dan dikembangkan oleh Kent Beck pada tahun 2001 silam. Kent Beck bersama sekitar 17 software developer merumuskan bagaimana langkah-langkah mengembangkan sebuah proyek IT yang efisien, cepat, dan memberikan hasil terbaik. Dengan begitu akan memberikan nilai lebih bagi perusahaan untuk bersaing di pasaran. Perumusan langkah-langkah tersebut pada akhirnya menghasilkan 12 prinsip yang disebut dengan Agile’s Manifesto.

Prinsip utama Agile Development (Agile’s Manifesto)

Dalam menerapkan Agile Development ada beberapa prinsip yang perlu untuk diperhatikan guna mendukung kelancarannya. Melansir dari laman HuffPost berikut dua belas prinsip tersebut yang perlu untuk Anda ketahui:

  1. Lebih menekankan kepuasan klien sebagai prioritas utama dengan cara menghasilkan produk lebih awal secara berkelanjutan.
  2. Selalu terbuka dalam menerima perubahan meskipun mengalami keterlambatan dalam mengembangkan peranti perangkat lunak. Perubahan tersebut akan memberikan keuntungan yang kompetitif bagi para klien.
  3. Dapat menghasilkan software yang bisa bekerja dengan baik, mulai dari hitungan minggu maupun bulan dan memiliki preferensi dalam jangka waktu lebih pendek.
  4. Rekanan bisnis dan developer harus bekerjasama selama proyek IT sedang berlangsung.
  5. Mengembangkan proyek pada orang-orang yang termotivasi. Adanya lingkungan yang mendukung akan membuat mereka untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dengan baik.
  6. Komunikasi secara langsung adalah metode yang efektif dan efisien untuk menyampaikan informasi dan mengembangkan software.
  7. Software yang bekerja dengan baik adalah ukuran utama sebuah kemajuan proyek IT.
  8. Agile Development mampu mengembangkan proyek dan pengembangan secara berkelanjutan. Dengan dukungan yang stabil dari sponsor, developer dan pengguna.
  9. Keunggulan teknis menjadi hal yang patut diperhatikan untuk meningkatkan sebuah agility.
  10. Kesederhanaan adalah hal yang paling penting dalam Agile Development yakni memaksimalkan sumber daya yang ada.
  11. Segala kebutuhan dan desain software terbaik muncul dari tim yang mampu mengorganisir diri sendiri.
  12. Tim pengembang secara berkala akan melakukan refleksi mengenai bagaimana cara bekerja yang lebih efektif dan menyeleraskannya dengan pola kerja mereka.

 

Jenis Agile Development

Agile Development dibagi menjadi beberapa jenis yang sering digunakan dalam berbagai proyek IT. Adapun beberapa jenis Agile Development Software tersebut di antaranya adalah Extreme Programming, Dymanic System Development Method, Scrum, dan Adaptive Software Development. Berikut penjelasan jenis tersebut.

  • Extreme Programming (XP)

Extreme programming merupakan jenis Agile Development yang cocok diterapkan untuk tim kecil hingga medium. Dalam jenis ini ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan semisalnya planning, design, coding hingga testing. Para developer bila menggunakan metode ini didorong untuk berani mengambil keputusan dalam melakukan proses coding. Extreme programming memiliki keunggulan di antaranya dapat meningkatkan kepuasan pada konsumen dan proyek IT lebih cepat selesai. Selain itu feedback dapat dilakukan dengan cepat dan bila terdapat kesalahan langsung segera diperbaiki. User pun dapat terlibat langsung dalam memantau pembuatan sistem informasi. Namun, ada juga kelemahan yang membuat developer harus siap dengan segala perubahan yang ada. Begitu juga dengan pembuatan kode tidak bisa dibuat lebih detail di awal.

  • Dynamic System Developmet Method (DSDM)

Sementara itu dynamic system developmet method merupakan kerangka kerja dalam Agile Development dengan mengutamakan keterlibatan penggunanya secara berkesinambungan. DSDM ini merupakan pendekatan yang iteratif dan inkremental. Terdapat lima fase yang dikembangkan dalam DSDM ini di antaranya adalah feasibility study, business study, functional model iteration, design and build iteration, dan implementation phase. Kelebihan dari metode ini adalah dapat membangun sebuah software dengan cepat hingga 80% dari proyek yang dirancang dan dalam 20% dari waktu total keseluruhan pengerjaan proyek IT. Sementara itu keunggulan dari metode ini terkadang dalam sebuah proyek IT isu mengenai sistem backup dan recovery hingga security kurang begitu diperhatikan.

  • Scrum

Berikutnya adalah SCRUM yang lebih mengedepankan pada kekuatan kolaborasi tim, incremental product dan proses iterasi. Dalam sistem SCRUM ini terdapat tiga metode yakni master SCRUM, product owner, dan tim SCRUM. Master SCRUM memiliki tugas untuk mengikuti prosedur yang sudah diterapkan, melindungi tim dari gangguan. Sementara itu product owner memiliki tanggung jawab yang besar karena memiliki visi tentang bagaimana proyek IT berjalan kepada tim SCRUM. SCRUM inilah yang nantinya akan mengatur pekerjaan mereka, seperti menganalisa, melakukan perancangan software, pengujian dan lainnya. Metode ini memiliki kelebihan antara lain membantu efisiensi perusahaan dan biaya overhead yang minim. Selain itu SCRUM dapat bekerja di berbagai teknologi maupun bahasa pemrograman untuk peningkatan sebuah website. Akan tetapi, SCRUM juga memiliki kelemahan di antaranya adalah membutuhkan tenaga ahli yang berpengalaman. Jika sebuah proyek IT dengan tenaga ahli yang kurang berpengalaman menggunakan metode ini maka pengerjaannya pun akan semakin lama.

  • Adaptive Software Development (ASD)

Adaptive software development merupakan metode dari Agile Development yang dikembangkan oleh Jim Highsmith. Metode ini menerapkan teknik membangun software dengan sistem yang kompleks. Terdapat tiga aktivitas utama dalam ASD ini yakni mengenai speculation, collaboration dan learning. Speculation merupakan aktivitas yang berkitan dengan misi awal seperti apa yang diinginkan klien, batasan proyek, dan kebutuhan yang diperlukan. Sementara itu collaboration merupakan aktivitas dalam menyelesaikan sebuah proyek pembuatan software. Metode ASD ini memiliki beberapa keunggulan di antaranya meningkatkan produktivitas kerja pada tim dan kualitas perangkat lunak. Di sisi lain metode ini juga mampu menghemat biaya produksi dan dapat mengurangi risiko kegagalan implementasi software terutama dari segi non-teknis. Sedangkan kelemahannya adalah metode ini tidak cocok digunakan untuk tim besar (lebih dari 20 orang). Juga dari perkiraan waktu rilis serta harga software yang digunakan sulit ditentukan. Dari berbagai macam metode atau model agile development di atas kesamaannya adalah fungsinya dalam mendapatkan test data dengan kasus yang sebenarnya. Maka dari itulah, copy data management mampu memberikan test data yang sama dengan real case dalam waktu yang singkat.

Test data dalam Agile Development

Ketika sebuah proyek terdapat rencana pengembangan perangkat lunak melalui agile development, diperlukan adanya test data atau dalam hal ini dikenal dengan test driven development. Pada dasarnya ini merupakan pross pengintegrasian atau testing sebelum dilakukannya implementasi. Di sini developer diharuskan membuat sebuah rancangan yang berisi mengenai fungsionalitas yang akan diimplementasikan tersebut. Dalam agile development, test data maupun test driven development diperlukan untuk memastikan apakah produk sesuai dengan spesifikasi pada tahap desain atau masih belum. Dengan adanya tahapan ini, dapat membuat produk yang dihasilkan semakin berkualitas dan memberikan performa terbaiknya. Dengan menerapkan metode Agile Development akan membuat tim semakin mudah dalam memecahkan sebuah masalah dalam dunia IT dengan cepat, tepat dan terukur. Untuk itu, guna mendukung kelancaran proyek tersebut tidak ada salahnya perusahaan menggandeng IT Outsource yang memiliki reputasi terbaik dan tepercaya. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan Anda dalam menerapkan Agile Development di perusahaan.